June 25, 2009 · Filed under Artikel Pilihan, Berita Pilihan · Tagged ADB, bank dunia, Baswir, Bruto, domestik, ekonomi, IMF, Indonesia, Kerakyatan, Keuangan, Neoliberal, Neoliberalisme, PDB, Pemerintah, Produk, Revrisond, Utang

Debt
Utang dan neoliberalisme: Persoalan cenderung direduksi menjadi masalah keuangan belaka
Oleh: Revrisond Baswir
Masalah utang kembali mencuat menjadi isu besar. Pemicunya adalah membengkaknya volume utang pemerintah dari Rp1.275 triliun pada akhir 2004, menjadi Rp1.704 triliun saat ini. Read the rest of this entry »
June 24, 2009 · Filed under Tajuk International Development, Tulisan Lepas · Tagged ADB, Ardi, bubar, Cepu, CGI, donor, Exxon, Fitra, Freeport, Hutang, IMF, Indonesia, kampanye, klaim, lembaga survey, luar negeri, MDGs, membubarkan, pesanan, pilpres, Rahman, SBY, sexy, spin doctor, Utang, world bank

SBY dan Obama
Klaim SBY atas di bubarkannya CGI membingungkan masyarakat
Oleh: Ardi Fitra Rahman
Di tengah gencarnya kampanye pilpres yang di lakukan masing-masing tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden, masyarakat Indonesia di harap tetap mampu melihat secara objektif rekam jejak yang di miliki masing-masing kandidat. Demokrasi gelombang ketiga praktis memberikan atmosfer baru terhadap cara-cara kampanye yang di pilih, di banding masa orde lama dan orde baru. Sayangnya, rendahnya kecerdasan politik yang dimiliki masyarakat pada umumnya harus di hadapkan dengan para “spin doctor” masing-masing kandidat yang notabene mulai mengadaptasi metode marketing politik modern. Memori masyarakat yang singkat menjadi sasaran empuk penggiringan opini oleh “lembaga survey pesanan” dan iklan-iklan politik memikat yang membentuk citra para calon di media massa. Klaim-klaim atas pencapaian-pencapaian tertentu seringkali menyesatkan masyarakat karena hanya memberikan informasi yang sepotong-sepotong. Read the rest of this entry »
June 24, 2009 · Filed under Tajuk International Development · Tagged Ardi, asia, bank dunia, Bantuan, donor, ekonomi, esterly, financial, Fitra, Hutang, IMF, Indonesia, internasional, joseph, krisis, krisis anggaran, luar negeri, Lunas, Morris Goldstein, pinjaman, programming, Rahman, resep, stiglitz, Utang, wiliam

IMF
IMF Dilanda Tiga Krisis
Oleh: Ardi Fitra Rahman
Indonesia memang telah melunasi hutangnya kepada IMF pada Oktober 2006, Namun ternyata putusnya hubungan antara IMF dan pemerintah Indonesia merupakan bagian dari trend negatif yang tengah melanda IMF. Ada tiga krisis yang tengah melanda IMF saat ini yaitu; krisis legitimasi (legitimacy), krisis peran (role) dan krisis anggaran (budget). Krisis legitimasi di mulai pada saat asia di landa krisis keuangan sekitar tahun 1997-1998. Peraih nobel ekonomi yang juga mantan chief economist World Bank, Joseph Stiglitz mendebat keras cara-cara IMF dalam menangani krisis asia. Stiglitz mengatakan bahwa IMF telah salah dalam mengidentifikasi karakteristik krisis ekonomi asia. Krisis ekonomi asia yang di awali dari Thailand di nilai sama sekali berbeda dengan krisis yang melanda amerika latin pada medio 1980an. Bukannya memberikan resep berbeda pada krisis di asia, IMF justru menawarkan paket pengobatan yang sama dengan krisis di amerika latin. Alhasil, jadilah obat yang sama di berikan pada penyakit yang berbeda. Bukannya sembuh, pasien-pasien IMF di asia justru semakin parah. Read the rest of this entry »
June 24, 2009 · Filed under International Development Dalam Diskursus HI · Tagged aid, Ardi, Bantuan, donor, Fitra, foreign, hubungan internasional, humanitarian, internasional, international aid, kebijakan, Liberalism, liberalisme, luar negeri, Lumsdaine, morghentau, Negara, non-interference, Rahman, Realism, realisme, regime, rezim, teori

Foreign Aid
Bantuan Luar Negeri Dalam Teori Hubungan Internasional: Perspektif Realisme dan Liberalisme
Sebagai disiplin ilmu yang terhitung muda, teori hubungan internasional telah mencatat jumlah teori yang mengesankan yang tersusun dalam beberapa struktur perdebatan. Namun, bagaimana semua teori ini ketika dihadapkan dengan praktek-praktek bantuan internasional yang kontemporer. Terdapat kecenderungan bahwa teori HI telah gagal mengkonseptualisasikan dengan jelas kemunculan praktek bantuan internasional dan implikasinya. Tulisan ini coba melihat bagaimana beberapa teori berusaha menjelaskan praktek bantuan internasional, sementara cukup banyak karya tulisan yang menyediakan bukti tentang kegagalan teori hubungan internasional dalam hal tersebut. Read the rest of this entry »
June 24, 2009 · Filed under Artikel Pilihan · Tagged aid, anthropology, Bantuan, critical international relation, Development, donor, economics, Foreign Aid, Goals, gramsci, hubungan internasional, inter-state, internasional, international, Liberalism, luar negeri, MDGs, Millennium, morghentau, political, pos-positivism, practice, Realism, regime, rezim, science, teori, theoretical, theory

Foreign Aid and Corruption
FOREIGN AID IN DISARRAY: THEORETICAL GAPS AND POLICY FAILURES
Oleh: Stefan Cibian
Artikel ini memuat dengan cukup lengkap praktek-praktek bantuan internasional (foreign aid) dalam perspektif hubungan internasional dan beberapa ilmu sosial lainnya. saat ini, bantuan internasional telah mencapai tingkatan yang baru dari masa-masa sebelumnya. Bermilyar-milyar dolar telah mengalir sebagai bentuk praktek bantuan internasional, baik dalam bentuk dana, program-program maupun wujud lainnya. Berbagai rezim mengenai bantuan internasional telah disusun dalam satu dekade terakhir. sayangnya, di Indonesia—sebagai salah satu Negara penerima bantuan terbesar—konsep bantuan internasional masih belum di kaji pada porsi yang semestinya. Dapatkah ilmu hubungan internasional sebagai disiplin yang masih muda menjelaskan praktek-praktek bantuan luar negeri? Selamat membaca.. Read the rest of this entry »
June 24, 2009 · Filed under Catatan Kecil · Tagged Ardi, cakrawala, Fitra, Indonesia, inswapala, Istana Merdeka, penjelajahan, perjalanan, perjuangan, puncak, Rahman

Inswapala
Indonesia Bukan Istana Merdeka
Oleh: Ardi Fitra Rahman
“…katakan pada mereka yang belajar tentang Indonesia dari buku-buku, yang mencintai tanahnya karena dongeng guru-guru atau mereka yang mengukur luasnya dengan peta masa lalu. Kami yang membaui embunnya, menggenggam debunya, terkapar lelah di batas cakrawalanya, membawa pesan dari puncak-puncak tertinggi negeri ini. Salju-salju telah mencair, mata air mengering, dan pepohonan gagah kini tersungkur tak berdaya. Bukan salah para dewa, karena ternyata, mereka tak pernah berdaya menghadapi nafsu manusia. Atas nama setiap tetes keringat yang jatuh sepanjang perjalanan kami. Setiap kata adalah ikrar dan setiap langkah adalah perjuangan. Penjelajahan kami bukan karena dogma, penjelajahan kami bukan karena agitasi. Penjelajahan kami karena cinta yang sederhana. Kami mencintai setiap helai daunnya, mencintai setiap butir pasirnya, mencintai setiap kepak sayap-sayap burung yang berada di dalam rimbanya. Bagi kami itulah Indonesia, bukan Istana Merdeka…”