IMF Dilanda Tiga Krisis

IMF

IMF

IMF Dilanda Tiga Krisis

Oleh: Ardi Fitra Rahman[1]

Indonesia memang telah melunasi hutangnya kepada IMF pada Oktober 2006, Namun ternyata putusnya hubungan antara IMF dan pemerintah Indonesia merupakan bagian dari trend negatif yang tengah melanda IMF. Ada tiga krisis yang tengah melanda IMF saat ini yaitu; krisis legitimasi (legitimacy), krisis peran (role) dan krisis anggaran (budget)[2]. Krisis legitimasi di mulai pada saat asia di landa krisis keuangan sekitar tahun 1997-1998. Peraih nobel ekonomi yang juga mantan chief economist World Bank, Joseph Stiglitz mendebat keras cara-cara IMF dalam menangani krisis asia. Stiglitz mengatakan bahwa IMF telah salah dalam mengidentifikasi karakteristik krisis ekonomi asia. Krisis ekonomi asia yang di awali dari Thailand di nilai sama sekali berbeda dengan krisis yang melanda amerika latin pada medio 1980an. Bukannya memberikan resep berbeda pada krisis di asia, IMF justru menawarkan paket pengobatan yang sama dengan krisis di amerika latin. Alhasil, jadilah obat yang sama di berikan pada penyakit yang berbeda. Bukannya sembuh, pasien-pasien IMF di asia justru semakin parah.

IMF dinilai sebagai ”biang kerok” semakin parahnya krisis ekonomi asia karena hingga pertengahan 1990an, IMF-lah yang gencar mengkampanyekan penghapusan kontrol kapital (capital control) dan mempromosikan liberalisasi keuangan. Akibatnya, Negara-negara asia jadi semakin bebas mengakses dana dari pasar uang dan akhirnya ketika dalam waktu singkat sekitar 100 milyar dollar keluar dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, dan Flipina maka Negara-negara tersebut jatuh kedalam jurang krisis akibat ketiadaan uang di dalam negeri.

Kritik juga di tujukan kepada skema program stabilisasi yang di canangkan IMF. Prasyarat-prasyarat yang mengiringi kebijakan stabilisasi IMF seringkali justru memberatkan pemerintah. Untuk menekan inflasi, IMF mengajukan syarat agar pemerintah membatasi pengeluaran. Kebijakan IMF ini justru membuat resesi semakin akut. Morris Goldstein yang merupakan salah satu ekonom veteran IMF mengatakan bahwa prasyarat itu sangat memberatkan bagi pemerintah di tengah krisis[3]. Studi dari mantan ekonom World Bank, Wiliam Esterly menyebutkan bahwa “financial programming” sebagai model standar stabilisasi ekonomi IMF untuk Negara berkembang tidak secara baik menjelaskan target variable, bahkan ketika komponen-komponen identitas di ketahui secara pasti[4]. Easterly menyarankan agar para staf IMF mengacu pada teori makro-ekonomi dan fakta empiric di luar “financial programming” untuk merancang paket program stabilisasi. Temuan Easterly sangat signifikan untuk menjelaskan ketidakmampuan staf IMF untuk menghadapi problem-problem ekonomi di Negara berkembang, tetapi sebaliknya sangat bergantung pada pemodelan ekonomi yang tidak relevan untuk menjelaskan masalah-masalah yang terjadi di Negara klien IMF

Krisis peran yang terjadi pada IMF diakibatkan ketidakmampuan dalam membela kepentingan Negara-negara yang berada di bawah programnya. Bahkan rekam jejak IMF menunjukan keberpihakannya kepada Negara kreditor dan para investor. Paket penyelamatan yang di rancang IMF lebih cenderung di gunakan untuk menjamin pembayaran kepada Negara kreditor, bukannya menyelamatkan pasien ekonominya. Contoh menarik bagaimana IMF tidak berpihak pada kepentingan Negara yang ada dalam pengawasannya adalah penerapan kebijakan Lending into Arrears (LIA) yang memungkinkan IMF memberikan dukungan pembayaran bagi negara yang memiliki tunggakan kepada kreditor swastanya. Berdasarkan pengalaman pada sejumlah kasus, penerapan kebijakan ini dinilai tidak konsisten dan IMF jarang sekali memainkan peranan yang konstruktif dalam menyeimbangkan kepentingan pihak yang berhutang (sovereign debtors) dan kreditor. IMF malah menggunakan instrumen LIA untuk memaksakan pandangan dan keberpihakannnya kepada kreditor asing kepada negara-negara penghutang [5].

Namun, dari krisis yang telah di sebutkan, krisis anggaran adalah krisis yang paling signifikan dalam tubuh IMF. Dengan sejarah penanganan krisis IMF, saat ini hanya sedikit Negara yang masih mau meminjam dari lembaga moneter internasional itu. Di tahun 2003 jumlah pinjaman mencapai 72 milyar dollar, turun menjadi 37,4 milyar dollar pada 2005 dan hingga 2006 hanya tinggal 15,3 milyar saja, itupun 12,2 milyar dollar (80 persennya) adalah pinjaman turki. Negara-negara seperti Indonesia, Uruguay dan Argentina memilih untuk mempercepat pembayaran utang kembali. Percepatan pelunasan hutang ini mengakibatkan penerimaan bunga pinjaman IMF berkurang drastis dari 3,19 miliar dolar pada 2003, menjadi 1,39 miliar dolar di 2006, dan 635 juta dolar di 2009. Kondisi ini menyebabkan defisit keuangan IMF diperkirakan mencapai 88 juta dolar di tahun 2006, dan membegkak menjadi 280- 300 juta dolar di tahun 2009-2010.[6] Dengan krisis anggaran yang sedemikian besar, praktis kegiatan operasi IMF akan sangat terganggu. Kemampuan IMF untuk menjaga stabilitas moneter global saat ini patut di pertanyakan. Alih-alih menjaga stabilitas keuangan global, bisa jadi IMF harus menelan resep-resepnya sendiri.

Namun baru-baru ini IMF mencetak laba kembali setelah dunia internasional di landa krisis global. IMF mencatat keuntungan sebesar US$ 126 juta untuk tahun finansial yang berakhir 30 April 2009. Pencetakan laba didapat seiring dengan tingginya aktivitas pinjaman IMF ke negara-negara anggotanya yang membutuhkan dana segar untuk mengatasi krisis ekonomi. Fakta mebuktikan bahwa dana moneter internasional ini ternyata hidup dari krisis yang melanda dunia. Dengan kenyataan itu, apakah IMF benar-benar berniat menghilangkan krisis yang menempa dunia?


[1] Ardi Fitra Rahman adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Padjadjaran dengan mengambil jurusan hubungan internasional.

[2] Fabby Tumiwa, IMF dalam krisis, Infid news, 2007. Hal 7.

[3] Goldstein, Morris (2000): IMF Structural Conditionality: How Much Is Too Much. Paper presented in the NBER Conference on: Economic and Financial Crises in Emerging Market Economy, Woodstock,Vermont, 19-21 October 2000.

[4] Easterly, William (2004): An Identity Crisis: Examining IMF Financial Programming, New York University, New York

[5] Fabby Tumiwa, IMF dalam krisis, Infid news, 2007. Hal 8.

[6] Schuldt, Jurgen (2006): Will the IMF swallow its own medicine? http://ifis.choike.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: